Thursday, June 16, 2005

T A N W I R (Muhammadiyah)

T A N W I R

Asal katanya dari bahasa Arab: nawwara - yunawwiru - tanwiran, yang berarti penyinaran atau penerangan. Dalam al-Qamus al-`Asri `Arabi Injilizi, kata tanwir sinonimnya adalah inarah dan ida'ah yang diartikan sebagai lighting dan illuminating. Sedangkan dalam al-Mu`jam al-Falsafi, itilah tanwir diartikan sebagai enlightenment --yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan pencerahan.
Istilah tanwir tampaknya menjadi salah satu ciri khas organisasi Muhammadiyah, yang dipakai sebagai suatu forum permusyawaratan yang resmi dan teratur. Dalam AD Muhammadiyah Pasal 17 disebutkan: (1) Tanwir ialah permusyawaratan tertinggi dalam Persyarikatan di bawah Muktamar, diadakan atas undangan Pimpinan Pusat, yang anggotanya terdiri dari: a. Anggota Pimpinan Pusat; b. Ketua Pimpinan Wilayah; c. Wakil Wilayah; d. Wakil Pimpinaan organisasi otonom tingkat pusat; (2) Tanwir diadakan sekurang-kurangnya sekali setahun.
Kemudian dalam ART Muhammadiyah Pasal 21 di jelaskan: (1) Tanwir diadakan atas undangan Pimpinan Pusat, atau atas permintaan sekurang-kurangnya seperempat dari jumlah anggota Tanwir di luar anggota Pimpinan Pusat. (2) Acara Tanwir: a. Laporan Pimpinan Pusat; b. Masalah-masalah mendesak yang tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar; c. Masalah-masalah yang oleh Muktamar atau menurut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga diserahkan kepada Tanwir; d. Masalah-masalah yang akan diajukan dalam Muktamar, sebagai pembicaraan pendahuluan; e. Usul-usul.
Dilihat dari sejarahnya, istilah tanwir tampaknya mulai ada dan resmi dipergunakan oleh Muhammadiyah sejak tahun 1932. Pada mulanya disebut "Madjlis Tanwir", sebagai salah satu hasil Kepoetoesan Conferentie Consul Hoofdbestuur Moehammadijah Hindia - Timoer di Djokjakarta (19-22 November 1932).
Dalam majalah Soeara Moehammadijah No. 4, Sja`ban 1351/December Th. XIV 1932, Kepoetoesan Conferentie tersebut dalam Hal Pimpinan, poin Keagamaan dimuat sebagai berikut (ditulis berdasarkan ejaan aslinya):
1. Oentoek mentjoekoepi boenji ajat (di sini ditulis terjemahannya Q.S. al-A`raf: 157): "(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung", maka Conferentie memoetoeskan: menambah seboeah Badan lagi --disampingnja Madjlis Tardjih-- yang diserahi mempeladjari dan meremboek masalah-masalah jang berhoeboengan dengan maksoed achir ajat Al-Qoeran terseboet. (Dalam majalah itu ayatnya tertulis sampai pada wa yada` `anhum israhum wa al-aghlalallati kanat `alaihim; dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka).
2. Badan ini dinamakan "Madjlis Tanwir" dan terdiri dari semoea Consoel H.B. Moehammadijah Hindia - Timoer.
3. Semoea Consul diharoeskan mendjadi anggauta Madjlis Tanwir.
4. Oentoek mengerdjakan hariannja, maka diadakan Dagelijksch Bestuur yang terdiri dari toean-toean: H. Moechtar, R. Moejadi Djojomartono dan H. Hasim.
Belum diketemukan informasi dan keterangan lebih lanjut mengenai dasar dan argumen pembentukan Madjlis Tanwir hubungannya dengan surat al-A`raf: 157 tadi. Demikian pula halnya belum dijumpai adanya penafsiran (akhir) ayat tersebut hubungannnya dengan Madjlis Tanwir. Dalam ART Muhammadiyah 1933 (Algemeene Huishouldelijk Reglement Moehammadijah) Fatsal VII ayat 6 poin b disebutkan: "Majlis Tanwir yaitu majlis yang diserahi mempelajari dan merembuk masalah-masalah yang berhubungan dengan maksud ayat Quran surat A`raf ayat 157", juga tidak ada keterangan lebih lanjut.
Jika dilihat dari kesamaan akar kata maupun hubungan artinya, kuat dugaan bahwa istilah tanwir tersebut bertalian rapat dengan potongan ayat wa at-taba` an-nur. Perhatikan kata tanwir dengan an-nur; penyinaran atau penerangan dengan cahaya atau sinar.
Dari informasi Soeara Moehammadijah No. 4/1932 dan ART Muhammadiyah 1933 tadi, tampaknya penyebutan Madjlis Tanwir itu memiliki perbedaannya dengan istilah Tanwir yang dikenal sekarang. Madjlis Tanwir lebih menunjukkan pada sebuah nama lembaga atau institusi pembantu bagi H.B. Muhammadiyah, bukan sebagai sebuah instansi permusyawaratan organisasi di bawah Muktamar.
Argumen tersebut bisa dipahami dengan memperhatikan adanya pengurus tersendiri dalam Madjlis Tanwir itu (Kepoetoesan Conferentie Consul 1932 menyebutnya dengan Dagelijksch Bestuur), seperti halnya yang ada pada majelis-majelis lain di Muhammadiyah. Di samping itu, dalam Kepoetoesan Conferentie tersebut juga tidak dijumpai keterangan, misalnya, Madjlis Tanwir bersidang setahun sekali.
Asumsi bahwa Madjlis Tanwir itu berbeda dengan istilah Tanwir sekarang, tampaknya pula didukung dengan tradisi organisasi Muhammadiyah sendiri waktu itu yang biasa mengadakan Algemeene Vergadering atau Congres setiap tahun. Sementara perkumpulan tahunan ini berlangsung hingga tahun 1941 (Congres ke-30 di Purwokerto yang urung terlaksana).
Pada zaman K.H. Mas Mansur menjadi Ketua H.B. Muhammadiyah (1937-1941), istilah Madjlis Tanwir dijadikan sebagai langkah kedelapan dari Dua Belas Langkah Muhammadiyah yang dirumuskannya. Bunyinya: "Menguatkan Majlis Tanwir. Sebab Majlis ini nyata-nyata berpengaruh besar dalam kalangan Muhammadiyah dan sudah menjadi tangan kanan yang bertenaga di sisi Hoofdbestuur Muhammadiyah, maka sewajibnyalah kita perteguhkan dengan diatur yang sebaik-baiknya".
Baru sejak tahun 1950 Majlis Tanwir secara berkala diadakan setahun sekali, setelah terjadi regulasi pelaksanaan Muktamar tiga tahun sekali. Dalam AD Muhammadiyah tahun 1950 yang disahkan oleh Muktamar ke-1 (ke-31) di Yogyakarta, 21-26 Desember 1950, Fasal 10 Hal Rapat disebutkan: a. Kekuasaan tertinggi adalah dalam tangan Mu'tamar yang diadakan sekali dalam tiga tahun. b. Sekurang-kurangnya sekali dalam setahun diadakan sidang Pengurus Besar dengan segenap wakil-wakilnuya. Sidang ini dinamakan Majlis Tanwir.
Istilah Tanwir sampai sekarang mulai termaktub dalam AD Muhammadiyah 1959, tidak lagi menyebut Majlis Tanwir seperti sebelumnya. Dalam AD Muhammadiyah 1959 Bab VI Fasal 16 disebutkan: Tanwir ialah permusyawaratan tertinggi dalam Persyarikatan pada waktu tidak ada Mu'tamar, terdiri dari: Anggota-anggota Pimpinan Pusat, Ketua Pimpinan Daerah, Ketua Pimpinan Wilayah dan para ahli yang diangkat oleh Tanwir dari anggota Persyarikatan. Tanwir diadakan sekurang-kurangnya sekali setahun atau atas permintaan sedikitnya sepertiga jumlah anggota Tanwir.
Kendati demikian, pertemuan atau forum permusyawaratan Majlis Tanwir tersebut tetap dinamakan Sidang Tanwir. Hal ini misalnya bisa dilihat dalam majalah Soeara Moehammadijah No. 3 Th. XXII, R. Awal 1359/April 1940 yang memuat hasil Sidang Tanwir (Conferentie Consul H.B. Moehammadijah dengan anggauta Hoofdbestuur) pada 23-25 Maret 1940, bertempat di Garoet.
Sebagai sidang pertemuan atau forum permusyawaratan, Tanwir memiliki kekhasan. Berbeda dengan Muktamar yang biasa dan selalu menyebutkan kali ke berapa acara itu diadakan, maka dalam pelaksanaan Tanwir tidak diembel-embeli dengan angka atau bilangan ke berapanya.
Sampai sekarang istilah Tanwir masih dipakai oleh Muhammadiyah dalam menyelenggarakan musyawarahnya setahun sekali. Selain Muhammadiyah, organisasi-organisasi otonomnya juga biasa menggunakan dan menyelenggarakan Tanwir, seperti `Aisyiyah, NA, Pemuda Muhammadiyah, dan IMM. Sedangkan di IRM, istilah Tanwir tidak dipergunakan. Istilah yang dipakai di IRM adalah Konpiwil (Konferensi Pimpinan Wilayah).******
Asep Purnama Bahtiar




BIBLIOGRAFI

Badawi, Mh. Djaldan, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah 1912-1985, Yogyakarta: Sekretariat PP Muhammadiyah, 1998.
al-Hafini, `Abd al-Mun`im, al-Mu`jam al-Falsafi, `Arabi - Injilizi - Faransi - al-Mani - Latini, Kairo: Dar asy-Syarqiyah, 1990.
H.B. Moehammadijah Hindia - Timoer di Djokjakarta, Soeara Moehammadijah No. 4 R. awal 1351/December Th. XIV 1932.
-------, Soeara Moehammadijah No. 3 Th. ke XXII R. Awal 1359/April 1940,
Ilyas, Ilyas Anton dan Edward I. Ilyas, al-Qamus al-`Asri `Arabi Injilizi, Kairo: al-Matba`ah al-`Asriyah, t.th.
Mansoer, K.H.M., 12 Tafsir Langkah Muhammadiyah, Peny. Abdul Munir Mulkhan, Yogyakarta: PP Muhammadiyah Majlis Tabligh bersama PT Persatuan, t.th.
PP Muhammadiyah, Muqadimah, Anggaran Dasar, dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, 1996.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home